Kamis, 05 Februari 2026

KETIKA DOSA MENJADI TIRAI CAHAYA: SERUAN TAUBAT DALAM NGAJI QALBU


          5 Februari 2026
          (Catatan Ngaji Qalbu bersama Sang Guru Prof Dr KH. Ali Masykur Musa; Kitab Tanbihu Al Mughtariin karya Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani; Kamis, 5 Februari 2026)
          Oleh: Abdur Rahman El Syarif

          PAGI itu, selepas Subuh, udara Condet masih menyimpan sisa dingin malam. Cahaya matahari belum sepenuhnya menembus langit, hanya garis tipis keemasan yang perlahan mengusap atap-atap rumah di sekitar Pasulukan Al-Masykuriyah. Para murid telah duduk bersila di pendopo, sebagian lagi mengikuti dari layar-layar kecil yang memancarkan wajah-wajah penuh harap dari berbagai penjuru negeri. Keheningan terasa seperti sajadah panjang yang membentang, menunggu kalimat-kalimat hikmah diturunkan.

          Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, membuka lembar pengajian dari Kitab Tanbīhu al-Mughtarrīn karya Syeikh ‘Abdul Wahhab Asy-Sya‘rani. Tema yang diangkat pagi itu terasa tajam sekaligus lembut: akhlak para mutasawwifin dalam memandang dosa dan taubat.

          Beliau mengawali dengan kisah Syeikh Ahmad bin Haq, yang mengajukan pertanyaan mengguncang kesadaran: “Apakah belum tiba waktunya wahai para pendosa untuk bertaubat? Ataukah kalian sengaja berpura-pura lupa?”

          Kalimat itu terasa seperti dentang lonceng di ruang batin. Sang Guru menegaskan, dosa sekecil apa pun tidak pernah hilang. Ia tercatat rapi dalam “perpustakaan amal” yang tak pernah salah menyimpan lembar kehidupan manusia.

          Allah berfirman:

          فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

          “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

          Dalam pandangan para sufi, dosa bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi tirai yang menghalangi cahaya ma‘rifat. Dosa menjauhkan hati dari kehalusan rasa bertemu Allah.

          Sang Guru lalu mengingatkan, tidak pantas bagi orang berakal menyakiti kekasihnya. Jika seseorang mengaku mencintai Allah, ia tidak akan berani melanggar larangan-Nya. Jika ia mencintai Rasulullah ﷺ, ia tidak akan ringan meninggalkan sunnah-sunnah beliau.

          Rasulullah ﷺ bersabda:

          لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعًا لما جئتُ به

          “Tidak sempurna iman seseorang hingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa.” (HR. البيهقي)

          Cinta dalam tasawuf bukan sekadar rasa, tetapi kepatuhan yang lahir dari kerinduan.

          Beliau kemudian menukil pesan para arifin: siapa yang menjauhi maksiat, Allah akan mencukupi rezekinya. Sebaliknya, kekurangan yang dirasakan manusia kadang bukan karena sedikitnya karunia, melainkan karena jauhnya hati dari Sang Pemberi.

          Allah menegaskan:

          وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

          “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

          Sang Guru menatap para murid dengan lembut, seolah mengajak setiap hati untuk jujur menilai dirinya. Kebahagiaan sejati, kata beliau, adalah ketika seseorang cukup menjadikan Allah sebagai kekasihnya. Ketika Allah menjadi tujuan cinta, seluruh kegelisahan dunia menjadi kecil.

          Yahya bin Mu‘adz berkata, semakin banyak dosa seseorang, semakin ia harus bersungguh-sungguh memohon ampun. Sebab dosa yang menumpuk membuat ibadah terasa berat. Hati yang gelap seperti ruangan tanpa jendela, suara dzikir terdengar, tetapi tidak memantul menjadi cahaya.

          Muhammad bin Wasi‘ bahkan menggambarkan dosa seperti aroma busuk. Jika seseorang mampu mencium bau dosa-dosanya sendiri, ia akan malu menghadap Allah tanpa tangisan taubat.

          Rasulullah ﷺ bersabda:

          إن العبد إذا أذنب نكت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى يعلو قلبه

          “Jika seorang hamba berbuat dosa, akan muncul titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, hatinya akan dibersihkan. Jika ia mengulang dosa, titik itu akan bertambah hingga menutupi hatinya.” (HR. الترمذي)

          Sang Guru melanjutkan, tanda hati yang dipenuhi dosa terlihat pada wajah yang mudah merengut, cepat marah, dipenuhi hasad dan fitnah. Sementara orang yang dekat dengan Allah memancarkan ketenangan, wajahnya menjadi tempat berlabuhnya kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.

          Beliau menegaskan, kebahagiaan ahli maksiat hanyalah fatamorgana. Ia tampak berkilau dari jauh, tetapi kosong ketika didekati. Sementara kebahagiaan ahli taat adalah ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan.

          Syeikh ‘Atha’ bin Abi Rabah mengingatkan, siapa yang mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah, tidak akan berani menodainya dengan maksiat. Beliau mencontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang dikenal sebagai sosok ḥalīm, lembut, penuh kasih, dan sangat menjaga kehormatan perintah Allah.

          Hasan al-Bashri berkata dengan nada yang menggugah, Allah tidak akan memuliakan para pendosa yang terus menantang-Nya, dan tidak akan menghinakan para shalihin yang menjaga kesetiaan kepada-Nya.

          Para ulama salaf bahkan berkata, tidak ada dosa yang dilakukan pada malam hari kecuali kehinaan menunggu di siang harinya. Sebab dosa memiliki bayangan panjang yang mengikuti pelakunya.

          Syeikh Fudhail bin ‘Iyadh mengingatkan, tidak ada dosa kecil jika terus diulang, dan tidak ada amal besar jika dilakukan dengan kesombongan. Semua dicatat oleh Allah dengan keadilan yang sempurna.

          Lalu Sang Guru menutup dengan pesan Syeikh Awwam tentang empat perkara yang lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri: istighfar yang pura-pura, tertipu oleh kemurahan Allah, terus-menerus melakukan dosa, dan merasa bangga dengan kemaksiatan. Empat hal ini membuat istighfar kehilangan ruhnya, seperti kata tanpa jiwa.

          Allah mengingatkan dengan penuh kasih:

          قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ

          “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

          Suasana pendopo menjadi semakin hening. Pagi telah sepenuhnya datang, tetapi para murid merasa seperti baru saja diajak menatap malam panjang dalam dirinya. Mereka menyadari, dosa bukan sekadar kesalahan, ia adalah tirai yang menghalangi cahaya cinta Ilahi.

          Dan taubat, sebagaimana diajarkan para sufi, bukan sekadar permohonan ampun, tetapi perjalanan pulang menuju Allah, dengan hati yang pecah oleh penyesalan, lalu disatukan kembali oleh rahmat-Nya.(*)

          #NgajiQalbu

          #TanbihulMughtarrin

          #PondokAlMasykuriyah

          #AliMasykurMusa

          #JalanMenujuAllah

           

          Like
           
          Love
           
          Haha
           
          Wow
           
          Sad
           
          Angry

          PALING ATAS

          Dampak Virus Corona terhadap Perekonomian Global Khususnya di Indonesia

          12 Maret 2020
          World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa Coronaviruses (Cov) adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona menyebabkan penyakit flu...

          DUTA MASYARAKAT 30 JANUARI 2026

          Kamis, 22 Januari 2026

          MENCINTAI KARENA ALLAH: JALAN SUNYI MENJAGA HATI DARI GELAP DUNIA

          https://www.facebook.com/share/r/1CBfrCikCM/

          **
          _(Catatan Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, *Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa;*  Kitab Tanbihu Al Mughtariin karya Syeikh Abdul Wahab Asy Sya'rani; Kamis, 08 Januari 2025)_

          Oleh: *Abdur Rahman El Syarif*

          Pagi selepas Subuh itu terasa dingin dan bening. Langit Condet masih berwarna pucat, seolah belum sepenuhnya terjaga. Di pendopo Pasulukan Al-Masykuriyah, para murid duduk dalam keheningan yang khidmat. Sebagian hadir secara fisik, sebagian lain menyimak dari balik layar, namun hati mereka berkumpul dalam satu arah: menata cinta agar tetap suci karena Allah.

          Ngaji Qalbu kembali berlanjut pada Kitab Tanbīhu al-Mughtarrīn karya Syeikh ‘Abdul Wahhab Asy-Sya‘rani. Pagi itu, Sang Guru mengajak para murid menyelami satu tema yang halus namun menentukan keselamatan batin: hubungan dengan sesama karena Allah.

          Beliau mengawali dengan kisah Sufyān ats-Tsaurī, seorang imam besar yang keras menjaga kejernihan niat. Sufyān berkata, jika seseorang melakukan pelanggaran lalu kita diam dan enggan mengingatkan, sesungguhnya itu tanda tidak adanya cinta kepada Allah. Amar ma‘ruf tidak boleh lahir dari kemarahan, tetapi dari cinta, amar ma‘ruf bil ma‘ruf.

          Allah menegaskan:

          وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

          “Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar.”
          (QS. At-Taubah: 71)

          Cinta karena Allah bukan sekadar perasaan hangat, tetapi keberanian menjaga sesama agar tidak terjatuh lebih jauh. Diam demi kenyamanan pribadi adalah tanda cinta yang telah tercemar.

          Sang Guru lalu menyampaikan riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu: kelak seorang hamba dihadapkan kepada Allah, lalu ditanya, “Apakah engkau mencintai seorang wali karena Aku?” Sebab mencintai kekasih Allah sejatinya adalah mencintai Allah sendiri.

          Rasulullah ﷺ bersabda:

          قال الله تعالى: المتحابون فيَّ على منابر من نور، يغبطهم النبيون والشهداء

          “Allah berfirman: Orang-orang yang saling mencintai karena-Ku akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya; para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka.” (HR. مسلم)

          Maka Sang Guru berpesan dengan suara yang lembut namun menghunjam: cintailah para kiai kampung, para mursyid yang istiqamah, yang menyalakan syiar tanpa pamrih dan tanpa sorot kamera. Mereka adalah lentera-lentera kecil yang menjaga malam umat agar tidak sepenuhnya gelap.

          Namun cinta karena Allah juga menuntut ketegasan batin. Imam Hasan al-Bashri mengingatkan: memutus hubungan dengan orang fasiq untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan berarti memutus fisik, melainkan memutus di dalam hati. Kita tetap hadir, tetap menyapa, tetapi membenci kefasikan itu sendiri, dengan tujuan meluruskan, bukan menghakimi.

          Beliau memberi contoh Gus Miek, yang justru mendekati para penikmat dunia malam. Fisiknya dekat, hatinya tetap terjaga. Cinta yang demikian adalah dakwah sunyi.

          Sufyān ats-Tsaurī bahkan berkata, ketika ditanya apakah orang fasiq yang wafat harus dilayati, beliau menjawab: tidak. Ini bukan kebencian personal, melainkan peringatan keras agar kefasikan tidak dinormalisasi.

          Dalam penjelasan lain, Sang Guru menyinggung sosok Mu‘āwiyah. Ia seorang alim dan pejuang dakwah, namun memiliki cinta pada kekuasaan. Imam Asy-Sya‘rani menilai dengan adil: Mu‘āwiyah mencintai dunia, tetapi tidak berhenti berdakwah. Tasawuf mengajarkan keseimbangan pandangan—tidak membabi buta mencela, tidak pula memutihkan segalanya.

          Hasan al-Bashri berkata dengan tajam: siapa yang mengaku mencintai seseorang karena Allah tetapi tidak menampakkan kebaikan, maka cinta itu dusta. Cinta sejati melahirkan akhlak, bukan sekadar klaim.

          Abu Hanifah memperingatkan: menyukai ahli neraka karena jasa atau keuntungan adalah kesalahan besar. Cinta yang dibangun di atas manfaat akan runtuh bersama runtuhnya manfaat itu.

          Karena itu para salaf berkata dengan keras: lebih baik berkawan dengan anjing daripada dengan orang fasiq. Bukan merendahkan makhluk, melainkan menggambarkan bahaya batin yang ditimbulkan oleh kebersamaan yang salah. 

          Ahmad bin Harb menegaskan, tidak ada yang lebih berharga daripada duduk bersama orang-orang shaleh dan memperhatikan amal mereka. Sebaliknya, tidak ada yang lebih berbahaya daripada terus-menerus berkumpul dengan orang fasiq.

          Sang Guru mengibaratkan orang shaleh seperti tumbuhan harum. Jika murid mendekat dan menghirup aromanya, bau itu akan terbawa menuju Allah, dan hati pun menjadi tenteram.

          Imam Asy-Sya‘rani mengajak setiap murid merenung: apakah engkau mencintai dan membenci seseorang karena Allah? Jika hubungan dibangun karena nafsu dan kepentingan, maka menangislah dan perbanyak istighfar siang dan malam.

          Rasulullah ﷺ bersabda:

          الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

          “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. مسلم)

          Bagi orang beriman, dunia terasa seperti penjara: jauh dari Kekasih, terpisah dari yang dicinta. Karena itu orang-orang shaleh selalu rindu berjumpa dengan Allah, rindu yang membuat mereka berhati-hati terhadap istidrāj: kekayaan, kesuksesan, dan kekuasaan yang justru menggelapkan hati.

          Pagi kian terang. Namun di dada para murid, terasa satu kesadaran baru: mencintai karena Allah adalah jalan sunyi, penuh seleksi batin, namun di sanalah hati diselamatkan dari gelap dunia.

          #NgajiQalbu
          #PonpesAlMasykuriyah
          #AliMasykurMusa
          #CintaKarenaAllah
          #TanbihulMughtarrin

          MENCINTAI KARENA ALLAH: JALAN SUNYI MENJAGA HATI DARI GELAP DUNIA


          MENCINTAI KARENA ALLAH: JALAN SUNYI MENJAGA HATI DARI GELAP DUNIA

          Catatan Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Tanbihu Al Mughtariin karya Syeikh Abdul Wahab Asy Sya’rani; Kamis, 08 Januari 2025

          Oleh: Abdur Rahman El Syarif

          Pagi selepas Subuh itu terasa dingin dan bening. Langit Condet masih berwarna pucat, seolah belum sepenuhnya terjaga. Di pendopo Pasulukan Al-Masykuriyah, para murid duduk dalam keheningan yang khidmat. Sebagian hadir secara fisik, sebagian lain menyimak dari balik layar, namun hati mereka berkumpul dalam satu arah: menata cinta agar tetap suci karena Allah.

          Ngaji Qalbu kembali berlanjut pada Kitab Tanbīhu al-Mughtarrīn karya Syeikh ‘Abdul Wahhab Asy-Sya‘rani. Pagi itu, Sang Guru mengajak para murid menyelami satu tema yang halus namun menentukan keselamatan batin: hubungan dengan sesama karena Allah.

          Beliau mengawali dengan kisah Sufyān ats-Tsaurī, seorang imam besar yang keras menjaga kejernihan niat. Sufyān berkata, jika seseorang melakukan pelanggaran lalu kita diam dan enggan mengingatkan, sesungguhnya itu tanda tidak adanya cinta kepada Allah. Amar ma‘ruf tidak boleh lahir dari kemarahan, tetapi dari cinta, amar ma‘ruf bil ma‘ruf.

          Allah menegaskan:

          وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

          “Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. At-Taubah: 71)

          Cinta karena Allah bukan sekadar perasaan hangat, tetapi keberanian menjaga sesama agar tidak terjatuh lebih jauh. Diam demi kenyamanan pribadi adalah tanda cinta yang telah tercemar.

          Sang Guru lalu menyampaikan riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu: kelak seorang hamba dihadapkan kepada Allah, lalu ditanya, “Apakah engkau mencintai seorang wali karena Aku?” Sebab mencintai kekasih Allah sejatinya adalah mencintai Allah sendiri.

          Rasulullah ﷺ bersabda:

          قال الله تعالى: المتحابون فيَّ على منابر من نور، يغبطهم النبيون والشهداء

          “Allah berfirman: Orang-orang yang saling mencintai karena-Ku akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya; para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka.” (HR. مسلم)

          Maka Sang Guru berpesan dengan suara yang lembut namun menghunjam: cintailah para kiai kampung, para mursyid yang istiqamah, yang menyalakan syiar tanpa pamrih dan tanpa sorot kamera. Mereka adalah lentera-lentera kecil yang menjaga malam umat agar tidak sepenuhnya gelap.

          Namun cinta karena Allah juga menuntut ketegasan batin. Imam Hasan al-Bashri mengingatkan: memutus hubungan dengan orang fasiq untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan berarti memutus fisik, melainkan memutus di dalam hati. Kita tetap hadir, tetap menyapa, tetapi membenci kefasikan itu sendiri, dengan tujuan meluruskan, bukan menghakimi.

          Beliau memberi contoh Gus Miek, yang justru mendekati para penikmat dunia malam. Fisiknya dekat, hatinya tetap terjaga. Cinta yang demikian adalah dakwah sunyi.

          Sufyān ats-Tsaurī bahkan berkata, ketika ditanya apakah orang fasiq yang wafat harus dilayati, beliau menjawab: tidak. Ini bukan kebencian personal, melainkan peringatan keras agar kefasikan tidak dinormalisasi.

          Dalam penjelasan lain, Sang Guru menyinggung sosok Mu‘āwiyah. Ia seorang alim dan pejuang dakwah, namun memiliki cinta pada kekuasaan. Imam Asy-Sya‘rani menilai dengan adil: Mu‘āwiyah mencintai dunia, tetapi tidak berhenti berdakwah. Tasawuf mengajarkan keseimbangan pandangan—tidak membabi buta mencela, tidak pula memutihkan segalanya.

          Hasan al-Bashri berkata dengan tajam: siapa yang mengaku mencintai seseorang karena Allah tetapi tidak menampakkan kebaikan, maka cinta itu dusta. Cinta sejati melahirkan akhlak, bukan sekadar klaim.

          Abu Hanifah memperingatkan: menyukai ahli neraka karena jasa atau keuntungan adalah kesalahan besar. Cinta yang dibangun di atas manfaat akan runtuh bersama runtuhnya manfaat itu.

          Karena itu para salaf berkata dengan keras: lebih baik berkawan dengan anjing daripada dengan orang fasiq. Bukan merendahkan makhluk, melainkan menggambarkan bahaya batin yang ditimbulkan oleh kebersamaan yang salah.

          Ahmad bin Hambal menegaskan, tidak ada yang lebih berharga daripada duduk bersama orang-orang shaleh dan memperhatikan amal mereka. Sebaliknya, tidak ada yang lebih berbahaya daripada terus-menerus berkumpul dengan orang fasiq.

          Sang Guru mengibaratkan orang shaleh seperti tumbuhan harum. Jika murid mendekat dan menghirup aromanya, bau itu akan terbawa menuju Allah, dan hati pun menjadi tenteram.

          Imam Asy-Sya‘rani mengajak setiap murid merenung: apakah engkau mencintai dan membenci seseorang karena Allah? Jika hubungan dibangun karena nafsu dan kepentingan, maka menangislah dan perbanyak istighfar siang dan malam.

          Rasulullah ﷺ bersabda:

          الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

          “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. مسلم)

          Bagi orang beriman, dunia terasa seperti penjara: jauh dari Kekasih, terpisah dari yang dicinta. Karena itu orang-orang shaleh selalu rindu berjumpa dengan Allah, rindu yang membuat mereka berhati-hati terhadap istidrāj: kekayaan, kesuksesan, dan kekuasaan yang justru menggelapkan hati.

          Pagi kian terang. Namun di dada para murid, terasa satu kesadaran baru: mencintai karena Allah adalah jalan sunyi, penuh seleksi batin, namun di sanalah hati diselamatkan dari gelap dunia.

          #NgajiQalbu
          #PonpesAlMasykuriyah
          #AliMasykurMusa
          #CintaKarenaAllah
          #TanbihulMughtarrin

          Like
           
          Love
           
          Haha
           
          Wow
           
          Sad
           
          Angry