Senin, 19 Mei 2025

MENGALIRKAN HIKMAH NUSANTARA KE BUKHARA: JEJAK INTERNASIONAL TAREKAT NAQSYABANDIYAH*

*
_(Tulisan sederhana saat membersamai *Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa*, Mudir 'Aly Idarah 'Aliyah Jatman dalam menerima tamu kehormatan dari Negara Uzbekistan)_

Oleh: *Abdur Rahman El Syarif*

Ketika kabar bahwa Mudir ‘Aly Idarah Aliyah JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa mendapatkan undangan menjadi pembicara dalam International Naqshbandi Conference di Bukhara, Uzbekistan pada 29 September - 5 Oktober mendatang tersebar, ia menjadi semacam pertanda besar bahwa arus spiritualitas Islam dari Timur Jauh, khususnya Nusantara, kembali menemukan simpul sejarahnya di jantung Asia Tengah.

Bukhara bukan sekadar kota. Ia adalah gugusan sejarah, cahaya ilmu, dan mata air sufi. Di sanalah Syekh Bahauddin Naqsyaband pendiri tarekat Naqsyabandiyah memulai arus sunyi yang berpengaruh besar dalam lanskap Islam dunia. 

Maka, diundangnya seorang tokoh tarekat dari Indonesia, khususnya dari JATMAN (Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah), adalah bukti keterhubungan spiritual yang melampaui batas politik dan geografis.

*Tarekat sebagai Jalan Diplomasi Spiritual*

Apa yang dibawa oleh Mudir ‘Aly ke Uzbekistan sejatinya lebih dari sekadar pidato atau presentasi. Ia membawa hikmah lokalitas Indonesia, kesufian yang berpadu dengan tradisi pesantren, akhlak kemasyarakatan, dan sejarah panjang para wali yang menenun Islam dengan kearifan Nusantara. 

Tarekat di Indonesia bukan hanya laku pribadi, tetapi juga lembaga sosial, etika politik, dan titian peradaban dunia. 

Dalam dunia yang retak oleh krisis identitas dan kekerasan atas nama agama, pertemuan internasional semacam ini adalah panggung penting untuk memperkenalkan wajah Islam yang damai, bersahaja, dan berakar pada cinta sebagaimana diwariskan oleh para masyayikh Naqsyabandiyah.

*Bukhara dan Nusantara: Jalinan Lama yang Terhubung Kembali*

Tidak berlebihan jika kita sebut bahwa kehadiran perwakilan tarekat Indonesia di Bukhara adalah semacam “ziarah intelektual balik”. Selama berabad-abad, para ulama dan sufi Nusantara mengarungi jalur darat dan laut ke pusat-pusat spiritual Islam di Timur, seperti Gujarat, Hijaz, hingga Asia Tengah. Kini, giliran pewaris mereka menyapa kembali sumber asalnya, bukan untuk belajar semata, tetapi untuk berdialog, berbagi, bahkan mungkin mengilhami.

Uzbekistan kini membuka diri sebagai pusat rujukan kebudayaan Islam klasik. Maka kehadiran suara dari Indonesia, negeri dengan populasi Muslim terbesar, adalah pengakuan atas kontribusi Nusantara dalam gerakan tasawuf global.

*Akhiran: Jalan Sunyi yang Mendunia*

Undangan ini bukan hanya kehormatan, melainkan amanah. Dunia butuh lebih banyak narasi Islam yang membumi dan merangkul. Dunia butuh untuk mendengar bagaimana tarekat tidak berarti pelarian, tetapi perjuangan spiritual dalam bingkai keadaban.

Mudah-mudahan kehadiran JATMAN di Bukhara menjadi penguat bagi pengakuan global terhadap warisan kesufian Nusantara  dan menjadi momentum kebangkitan diplomasi ruhani dari dunia Muslim Selatan.

Bismillah, semoga berkah dan bermanfaat. Amin.

_"Bersama Jatman, Kita Jaga Nafas Tauhid di Setiap Jengkal Tanah Air Nusantara"_

#nu #pbnu #tarekat #naqsyabandiyah #nusantara #islamnusantara #peradabanislam


https://www.facebook.com/share/v/19zaEUvEg7/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar