Jumat, 16 Mei 2025

NAQSYABANDIYAH DAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM NUSANTARA

*JEJAK RUHANI DI PANGGUNG KEKUASAAN: SUFISME POLITIK DARI SAMARKAND KE NUSANTARA*
_(Tulisan sederhana sebagai ikhtiar menterjemahkan Konsep Nawa Mustika (9 Mutiara Hikmah) Jatman NU dari Mudir Ali Idarah 'Aliyah Jatman NU, *Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa*)_

Oleh: *Abdur Rahman El Syarif*

BAB V. 
DI BUMI MELAYU: NAQSYABANDIYAH DAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM NUSANTARA
5.4. Minangkabau: Laskar Ruhani dan Revolusi Sosia

*5.4.6 Syekh Khatib al-Minangkabawi: Penjaga Api Sunyi Tarekat di Ranah Minang*

Di tengah hiruk-pikuk sejarah perjuangan fisik seperti Gerakan Paderi dan hegemoni kolonial Belanda di Sumatera Barat, muncul sosok-sosok ruhani yang menapaki jalan sunyi, berjuang bukan dengan senjata, tetapi melalui zikir, ilmu, dan pendidikan spiritual.

Salah satu di antaranya adalah Syekh Khatib al-Minangkabawi, seorang mursyid tarekat besar yang menjadi titik simpul penting dalam jaringan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Nusantara.

Nama lengkap beliau adalah Syekh Muhammad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi. Ia berasal dari Luhak Agam, dan pada masa mudanya menempuh pendidikan ke Makkah.

Di sana ia berguru kepada seorang tokoh tarekat besar abad ke-19, Syekh Ahmad Khatib Sambas (w. 1875), yang memberinya ijazah tarekat dari dua jalur: Qadiriyah dan Naqsyabandiyah¹. 

Syekh Khatib al-Minangkabawi kemudian diizinkan mengajarkan tarekat ini di kampung halamannya dan menjadi salah satu dari sedikit khalifah utama yang meneruskan warisan ruhani sang guru.

Kepulangan beliau ke Minangkabau membawa dimensi baru dalam kehidupan tarekat di ranah ini. Pasca-perang Paderi, ketika masyarakat mulai menata ulang kehidupan keagamaannya, kehadiran tokoh seperti Syekh Khatib menjadi penting dalam menyalakan kembali semangat spiritual melalui jalur yang damai dan mendalam. Beliau mengajarkan suluk (ritus penyucian jiwa), menyusun wirid-wirid, dan membina surau-surau tarekat yang tersebar dari Agam, Payakumbuh, hingga Rokan².

Tidak hanya itu, Syekh Khatib juga memperkuat jejaring keilmuan melalui pembinaan murid-murid yang kelak menyebarkan TQN ke berbagai wilayah Sumatra Barat dan bahkan ke luar Minangkabau. 

Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah Syekh Abdullah Arif Payakumbuh dan Syekh Haji Muda Rokan (Riau), yang masing-masing menjadi pusat penyebaran TQN di wilayahnya³.

Peran Syekh Khatib al-Minangkabawi mencerminkan fase pasca revolusioner tarekat di Minangkabau: dari jihad fisik menjadi jihad spiritual yang membina peradaban.

Tanpa banyak mencampuri urusan politik langsung, pengaruh beliau justru mengakar lebih dalam, melalui pembentukan karakter, pemurnian akidah, dan penguatan kesadaran sufistik dalam masyarakat. Inilah politik ruhani yang bergerak dalam diam, namun meninggalkan jejak panjang dalam sejarah spiritual Sumatera Barat.

Dengan demikian, Syekh Khatib al-Minangkabawi layak dikenang sebagai salah satu tokoh kunci dalam kesinambungan sufisme politik di Minangkabau. 

Ia mewariskan bukan hanya tarekat, tetapi juga cara hidup berupa kesederhanaan, keteguhan jiwa, dan kedalaman pandangan spiritual dalam menghadapi dinamika sosial-politik modern.

*"Jatman, Nafas Tauhid di Setiap Jengkal Tanah Air"*

(bersambung ke Subbab 5.4.7.)

Referensi:
1. Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 146–150.
2. Ismatu Ropi, "Peran Ulama Tarekat dalam Islamisasi Sumatera Barat", dalam Ulama dan Islam di Indonesia (Jakarta: Rajawali Press, 1997), hlm. 212–215.
3. Syamsul Bahri, Sejarah Tarekat di Minangkabau (Padang: Tarbiyah Press, 2004), hlm. 104–111.


https://www.facebook.com/share/1AqaGwcAXq/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar