Kamis, 04 Desember 2025

PELANTIKAN IDARAH SYU'BIYYAH JATMAN KOTA BEKASI

*DIBAWAH CAHAYA JUM'AT: PELANTIKAN IDARAH SYU'BIYYAH JATMAN KOTA BEKASI*

Oleh: *Abdur Rahman El Syarif*

Pada hari Jum‘at yang bening, 5 Desember 2025, Gedung Center Thariqah JATMAN Bekasi akan menjadi semacam mihrab zaman, tempat di mana langkah-langkah para salik dan tokoh-tokoh tarekat berhimpun dalam satu denyut, satu niat, satu ikrar khidmah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Di aula yang sederhana namun penuh barakah itu, telah dipersiapkan aroma wewangian kasturi yang akan bergabung dengan gema shalawat yang merdu. Para hadirin akan memasuki ruangan seperti memasuki taman dzikir; setiap langkah membawa harapan, setiap pandangan membawa kerinduan kepada jalan ruhani yang diwariskan para masyayikh Thariqah. 

Di tengah suasana itu, akan hadir seorang guru bangsa, Mudir ‘Ali Idarah Aliyah JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, S.H., M.Si., M.Hum. Kehadirannya bukan sekadar sebagai pemimpin organisasi, tetapi sebagai pembawa napas panjang tradisi yang menghubungkan murid-murid zaman kini dengan silsilah para wali yang lampau.

Pelantikan Idarah Syu‘biyyah JATMAN Kota Bekasi pun akan berlangsung sebagai sebuah majelis yang lebih mirip mi‘raj batin daripada sekadar agenda administratif. Nama-nama yang akan dilantik tidak sekadar menerima amanah, tetapi menerima beban lembut yang dijahit dengan doa; amanah untuk menjaga thariqah sebagai jalan kehalusan jiwa, bukan sekadar organisasi.

Kita menyadari bahwa jalan thariqah adalah perjalanan sunyi yang tidak mengenal tepuk tangan, tetapi mengenal ketekunan; tidak mengharapkan pujian, tetapi mengharap ridha Allah semata. 

Kita berharap bahwa menjadi pengurus bukan untuk dihormati, melainkan untuk menebar rahmat dan menjaga adab di tengah masyarakat yang haus keteladanan.

Acara diakhiri dengan tawassul dan doa bersama. Suara basmalah terdengar serempak, mengalir lembut seperti sungai yang mencari lautan. Dalam kesyahduan itu, setiap insan yang hadir merasakan getar yang sama: bahwa JATMAN di Bekasi sedang menapaki babak baru—babak di mana khidmah, adab, dan kesetiaan kepada thariqah akan menjadi suluh bagi perjalanan ke depan.

InsyaAllah, dengan momen pelantikan ini Bekasi akan menjadi saksi, dan langit mencatat bahwa Bekasi menjadi bagian tak terpisahkan dari komitmen JATMAN dalam meniupkan "Nafas Tauhid di Setiap Jengkal Tanah Air."



https://www.facebook.com/share/p/1XQiuVZSSJ/

Senin, 24 November 2025

SERUAN SANG MUDIR DI MANQIB KUBRO JEPARA

*BENING MATA AIR HATI: SERUAN SANG MUDIR DI MANQIB KUBRO JEPARA*
_(Merasa Prihatin atas Polemik yang berkepanjangan di tubuh PBNU)_

Oleh: *Abdur Rahman El Syarif*
          * M. Nurul Huda, S.H.I *
Seakan memperteguh Balekambang Jepara sebagai kota peradaban tarekat, di antara gemuruh doa dan debur ombak yang lembut, Mudir ‘Aly JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, berdiri dengan keteduhan seorang ayah spiritual. Sorot matanya memantulkan kegelisahan umat, namun suaranya tetap bening, seperti aliran sungai yang menenangkan tanah yang retak.

Beliau membuka pesannya dengan kelembutan:

“Tidak usah risau,” tuturnya, meredakan gelombang resah yang mengitari polemik para elite PBNU. Ada nada prihatin dalam suaranya, sedih, tapi tidak putus asa. Seperti seorang mursyid yang melihat awan gelap di ufuk, namun tahu bahwa hujan selalu membawa tumbuh-tumbuhan baru.
Lalu beliau menyeru JATMAN di seluruh penjuru negeri:

Perbanyaklah dzikir…, perbanyaklah istighotsah…, perbanyaklah manaqib…
Karena di situlah letak kekuatan uma, di dalam beningnya hati yang kembali kepada Allah.
Dalam tausiyahnya, Sang Mudir menukil sebuah hikmah yang menggema dalam-dalam di dada para hadirin:

“Setiap polemik pada suatu kaum berangkat dari keadaan hati para pemimpin dan kaumnya.
Hati itu ibarat mata air:
jika jernih, maka menghidupi;
jika keruh, maka memudaratkan.”

Kata-kata itu turun seperti embun subuh, membasahi kegelisahan dan menyadarkan bahwa akar persoalan bukan hanya di langit para elite, tetapi juga di tanah hati umat. Bahwa yang perlu dibersihkan bukan hanya wacana, tetapi jiwa.
Di hadapan jamaah Manaqib Kubro malam itu, beliau menutup dengan panggilan yang sederhana namun menghunjam:

“Mari kita terus membersihkan jiwa
dan membeningkan mata hati,
agar sinarnya menuntun kehidupan berbangsa dan bernegara, dipimpin oleh nurani,
bukan oleh hawa nafsu.”

Dan seketika, suasana Balekambang terasa seperti taman cahaya.
Dzikir yang bergetar di udara menyatu dengan keheningan malam.
Para hadirin tenggelam dalam rasa:
bahwa jalan keluar dari kekusutan dunia
selalu bermula dari kejernihan hati.
#JATMAN
#ManaqibKubro
#BalekambangJepara
#DzikirIstighotsah
#AliMasykurMusa Bagian 5

https://www.facebook.com/share/r/17o325TWim/

Senin, 18 Agustus 2025

“𝗧𝗔𝗥𝗘𝗞𝗔𝗧” 𝗔𝗟𝗔𝗪𝗜𝗬𝗔𝗛 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗠𝗘𝗠𝗘𝗡𝗨𝗛𝗜 𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗧 𝗗𝗜𝗦𝗘𝗕𝗨𝗧 𝗧𝗔𝗥𝗘𝗞𝗔𝗧 𝗠𝗨𝗞𝗧𝗔𝗕𝗔𝗥𝗢𝗛 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗟𝗜𝗡𝗚𝗞𝗨𝗣 𝗡𝗔𝗛𝗗𝗟𝗔𝗧𝗨𝗟 𝗨𝗟𝗔𝗠𝗔.



https://www.walisongobangkit.com/tarikat-alawiyah-tidak-memenuhi-standar-thariqah-nu/

Terpaksa kalimat “Tarekat” dalam judul penulis bubuhi dua tanda kutip. Hal itu karena memang diksi “Tarekat Alawiyah” itu tidak jelas. Karena akan banyak pertanyaan yang akan sulit dijawab oleh para pemerhati tarekat, seperti: Apakah benar Klan Ba’alwi mempunyai tarekat, jika ada siapa pendirinya? Apakah benar tarekatnya bernama “Tarekat Alawiyah”? Bagaimana sanad “Tarekat” Alawiyah sampai kepada Rasulullah ﷺ? Apa wiridan khusus “Tarekat” Alawiyah? Siapa hari ini Mursyid “Tarekat” Alawiyyah dan kepada siapa ia bertalqin dan berbaiat? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan sulit untuk dijawab oleh para pemerhati dunia tarekat.
❖ Pertanyaan pertama yaitu apakah benar Klan Ba’alwi mempunyai tarekat dan siapa pendirinya akan bisa dijawab, jika pertanyaan-pertanyaan selanjutnya bisa dijawab terlebih dahulu. Contoh pertanyaan tentang siapa mursyid “Tarekat” Alawiyah sekarang dan kepada siapa ia bertalqin dan berbaiat akan sulit dijawab. Tidak pernah ada Klan Ba’alwi kita dengar menasbihkan diri sebagai mursyid “Tarekat” Alawiyah. Seorang Ba’alwi, Lutfi bin Yahya (LBY), yang pernah menjadi ketua Jamaah Ahli Tarekat Mutabarah al-Nahdliyyah (Jatman) pun malah mengaku dirinya bertarekat Al-Syadziliyah yang katanya ia bertalqin kepada Mbah Abdul Malik Banyumas. Yang kemudian para pemerhati tarekat menganggap sanad “Tarekat Al-Syadziliyah” LBY kepada Mbah Malik juga bermasalah karena Mbah Abdul Malik lebih dikenal sebagai Mursyid Tarikat Naqsyabandiyah Kholidiyah, bukan Syadziliyah.
❖ Kejanggalan kedua adalah nasab Mbah Abdul Malik yang merupakan keturunan Raden Dipowongso cicit dari Pangeran Diponegoro kemudian ditulis oleh Tim Kanzushalawat pimpinan LBY sebagai keturunan Bin Yahya Ba’alwi.
Kembali kepada masalah “Tarikat” Alawiyah. Setiap tarekat biasanya mempunyai wiridan khusus setiap ba’da sholat atau di waktu-waktu tertentu dalam suluk, seperti Tarekat Qadiriyah yang mewajibkan para jamaahnya yang telah bertalqin dan berbaiat untuk membaca kalimat tauhid sebanyak 165 kali. Lalu Tarekat Alawiyah apa wiridan khususnya?
Pertanyaan lain seperti tentang nama misalnya juga akan sulit dijawab. Sejak kapan nama Tarekat Alawiyah dikenal dan siapa yang mendirikan?
Jika mereka menjawab: Dalam kitab Syarhul ‘Ainiyyah dikatakan bahwa Tarekat Alawiyah didirikan oleh Faqih Muqoddam yang ia dapatkan dari ayahnya terus ke kakeknya, dari anak ke ayah sampai ke Ubaidillah dan terus ke Ahmad bin Isa sampai kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah tarekat yang diwariskan keturunan Nabi secara turun temurun (h.165).
Penulis menjawab: Faqih Muqoddam tidak terbukti sebagai keturunan Nabi Muhammad ﷺ, bagaimana bisa dikatakan “Tarekat” Alawiyah sebagai tarekat yang diwariskan keturunan Nabi secara turun temurun; nama Ubaidillah tidak terbukti sebagai anak Ahmad bin Isa, dan nama-nama seperti Sahib Mirbat, Ali Khali Qasam, Alwi kedua, Muhammad, Alwi pertama dan Ubaidillah adalah nama-nama yang tidak terbukti sebagai sosok historis, nama-nama itu tercipta di abad sembilan dalam kitab Ali al-Sakran. Bagaimana sebuah tarekat bisa dipercaya sanadnya tersambung kepada Rasulullah ﷺ, jika nama-nama dalam sanad itu tidak pernah disebut oleh para ahli tasawuf, ahli tarekat, ahli nasab dan ahli sejarah?
Jika mereka berkata, bahwa menurut kitab Syarhul ‘Ainiyyah Fakih Muqoddam mendapatkan sanad tarekat bukan hanya dari ayahnya tetapi juga dari Syekh Abdullah bin Ali al-Shalih lalu ia dari gurunya Abdurrahman Al-Maq’ad lalu ia dari gurunya Syekh Syuaib Abi Madyan (w.594 H.) (h. 165). Abu Madyan lahir di Sevila Spanyol dan wafat di Tilmisan Al-Jazair. Ia adalah pendiri “Tarekat Madyaniyah” yang berkembang di Maroko dan Spanyol. Nama Abu Madyan juga disebutkan oleh Ali al Sakran dalam Al-Burqat al-Musyiqah (h.49).
Penulis menjawab, Kalau begitu, tarekat itu bukan “Tarekat Alawiyah” tapi “Tarekat Madyaniyah”, dan bersanad bukan kepada keturunan Nabi Muhammad SAW, karena Abdullah al-Shalih dan Abdurrahman al-Maq’ad bukan keturunan Nabi. Berarti “Tarekat” Alawiyah adalah tarekat yang sanadnya bersambung kepada seorang “Akhwal” dan “Ajam” bukan keturunan Nabi.
Jika Faqih Muqoddam bertarekat Madyaniyyah , pertanyaan selanjutnya: kenapa sekarang namanya menjadi “Tarekat” Alawiyah? Sejak kapan nama Tarekat Alawiyah itu dikenal? Kenapa para Ba’alwi sekarang tidak mempopularkan nama “Tarekat Madyaniyah”? Kenapa Ba’alwi sekarang tidak membesarkan nama dan menghauli Syekh Abu Madyan? Apakah karena Klan Ba’alwi ragu Faqih Muqoddam mendapatkan ijajah yang terputus dari Abu Madyan?
Klaim-klaim kitab-kitab internal Ba’alwi yang menyebut Faqih Muqoddam mendapat sanad tarekat dari Abu Madyan jelas meragukan. Karena nama Abdurrahman al-Maq’ad yang katanya disebut sebagai murid Abu Madyan namanya majhul di kalangan ulama tarekat. Murid-murid Abu Madyan yang terkenal membawa ajaran Abu Madyan adalah Ja’far bin Sidbunah al-Khuza’i dan Abdurrazaq al-Jazuli. Sedangkan nama Abdurrahman al-Maq’ad yang katanya mempunyai murid bernama Abdullah al-Shalih kemudian ia mempunyai murid Faqih Muqaddam adalah sosok yang tidak dikenal.
Kisah tentang baiat Faqih Muqoddam terhadap Tarekat Madyaniyah pun janggal. Biasanya seorang murid tarekat mendatangi gurunya untuk berbaiat, tetapi untuk kasus Faqih Muqoddam, katanya, gurunya, Abdullah Shalih, sengaja datang ke Tarim untuk membaiat Faqih Muqoddam.
Ditulis dalam sumber-sumber Klan Ba’alwi, sebuah drama pembaiatan Faqih Muqoddam kepada tarekat Abu Madyan. Dikisahkan bahwa Abu Madyan memerintahkan muridnya, Abdurrahman al-Maq’ad untuk datang ke Hadramaut agar membaiat warga Hadramaut, dan Abu Madyan menyatakan bahwa Al-Maq’ad akan mati ditengah jalan, kemudian Al-Maq’ad akan mengutus muridnya untuk membaiat warga Hadramaut. Lalu benarlah terjadi apa yang dikatakan oleh Abu Madyan, Al-Maq’ad wafat di Makkah, lalu ia mengutus muridnya yang bernama Abdullah Shalih untuk pergi ke Tarim. Sebelum wafat, ia berwasiat kepada muridnya itu agar ia ke Tarim untuk menemui Faqih Muqoddam. Dalam wasiatnya itu ia menyatakan bahwa muridnya ini akan menemui Faqih Muqoddam ketika ia sedang bersama Bamarwan membawa pedang yang diletakan di atas kedua kakinya. Ketika Abdullah Shalih bertemu Faqih Muqoddam ia menemuinya dalam keadaan seperti yang dikatakan gurunya itu (lihat Syarhul ‘Ainiyyah h. 167).
Kisah dramatis pembaiatan Faqih Muqoddam terhadap Tarikat Madyaniyah itu mencurigakan. Seperti sudah penulis sampaikan bahwa nama Abdurrahman al-Maq’ad disebut sebagai murid dari Abu Madyan hanya ada dalam kitab-kitab internal Ba’alwi, bahkan sosoknya saja tidak dikenal dalam sejarah. Nama Abdurrahman al-Maq’ad muncul pertama kali dalam kitab Al-Burqat karya Ali al Sakran setelah 301 tahun wafatnya Abu Madyan tanpa dapat diverifikasi oleh kitab apapun sebelumnya.
Kesimpulan tulisan tentang “Tarekat” Alawiyah ini adalah: “Tarekat” Alawiyah hari ini tidak definitive disebut tarekat. Ia tidak mempunyai mursyid, ia tidak mempunyai wirid khusus sebagaimana tarekat lainnya, sanad yang pertama terputus dan sanad yang kedua tidak terkonfirmasi dan tidak terverifikasi. Maka, “Tarekat” Alawiyah ini tidak memenuhi syarat untuk dimasukan ke dalam kategori tarekat muktabarah dalam kalangan Nahdlatul Ulama.
Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani

Kamis, 22 Mei 2025

MARTABAT TUJUH



Asy-Syaikh Al-Arifbillah Muhammad Fadhil'allah Al-Burhanpuri Al-Hindi Qaddasallahu Sirrahu menjelaskan 

 قال الشيخ العارف بالله سيدي محمد فضل الله البرهانبوري الهندي قدس الله سره

قال الشيخ العارف بالله سيدي محمد فضل الله البرهانبوري الهندي قدس الله سره

وان  لذلك الوجود مراتب كشرة المرتبة الأولى: مرتبة اللاتعين وتسمى مرتبة الإطلاق وذات البحت لا بمعنى أن قيد الإطلاق ومفهوم سلب التعين في التعين ثابتان في تلك المرتبة بل بمعنى أن ذلك الوجود في تلك المرتبة منزه عن إضافة النعوت والصفات إليه ومقدس عن كل قيد حتى عن قيد الإطلاق أيضا وهذه المرتبة تسمى بالمرتبة الأحدية وهي كنه الحق سبحانه وتعالى 
وليس فوقها مرتبة أخرى بل كل المراتب تحتها.

والمرتبة الثانية:
مرتبة التعين الأول وهى عبارة عن علمه تعالى لذاتة وصفاتة ولجميع الموجودات على وجه الإجمال من غير  امتياز  بعضها عن بعض وهذه المرتبة تسمى مرتبة الوحدة والحقيقة المحمدية

والمرتبة الثالثة:
مرتبة التعين الثاني وهى عبارة عن علمه تعالى لذاتة وصفاتة ول8جميع الموجودات على طريق التفصيل وامتياز بعضها عن بعض وهذه المرتبة تسمى الواحدية والحقيقة الإنسانية فهذه ثلاث مراتب كلها قديمة أزلية والتقديم والتأخير عقلي لا زماني

والمرتبة الرابعة:
مرتبة الأرواح وهي عبارة عن الأشياء الكونية المجردة البسيطة التي تظهر على ذراتها وعلى أمثالها

والمرتبة الخامسة:
مرتبة عالم المثال وهو عبارة عن الأشياء الكونية المركبة اللطيفة
التي لا تقبل التجزى والتبعيض والخرق والالتئام

والمرتبة السادسة:
مرتبة عالم الأجسام وهي عبارة عن الأشياء الكونية الكثيفة التي تقبل التجزى والتبعض

والمرتبة السابعة:
المرتبة الجامعة لجميع المراتب المذكورة الجسمانية والنورانية والوحدة والواحدية وهي التجلي الأخيرة منها أعنى  الإنسان اذا 
عرج وظهرت فيه جميع المراتب المذكورة مع انبساطها يقال له الإنسان الكامل والعروج والانساط على  الوجه الأكمل كان في نبينا صلى الله عايه وسلم ولهذه كان خاتم النبيين

الكتاب: اتحاف الذكي بشرح التحفة المرسلة إلى النبى صلى الله عليه وسلم

الكتاب: اتحاف الذكي بشرح التحفة المرسلة إلى النبى صلى الله عليه وسلم 

Dan sesungguhnya, karena itu Al-Wujud memiliki banyak tingkatan/level. Martabat pertama adalah

1. Martabat Ahadiyah

 “Martabat lâ Ta’yun” atau “Martabat al-ilthlâq” atau “Martabat Adz-Dzat Al-Bakht (Martabat Dzat yang Mutlak). Ini tidak bermakna pembatasan kemutlakan dan pemahaman meniadaan ta’yun (entitas yang ada) ada tetap di dalam martabat itu. Sebaliknya hal itu bermakna bahwa Al-Wujud di dalam martabat itu (martabat lâ ta’yun), suci dari yang ikutan-ikutan dan sifat-sifat, dan suci dari setiap ikatan sampai pada ikatan kemutlakan juga. Dan martabat ini dinamakan “Martabat Al-Ahadiyah”, yaitu Kunhu al-Haqq subahanu wata`ala, dan tidak ada martabat lain di atasnya, sebaliknya setiap martbat ada di bawahnya.

2. Martabat Wahdah

Dan martabat kedua, “Martabat At-Ta’yun  al-Awwal” adalah ibarat dari Ilmu-Nya Alloh ta`ala bagi Dzat-Nya dan Sifat-Nya dan semua al-maujudât dalam sudut global dengan tanpa pembedaan sebagian atas sebagian yang lain. Dan martabat ini dinamakan “Martabat al-Wahdah” dan “Al-Haqiqah al-Muhammadiyah”

3. Martabat Wahidiyah

Dan ketiaga “Martabat At-Ta’yun Ats-Tsani” adalah ibarat dari Ilmu-Nya Alloh ta`ala kepada Dzat-Nya, sifat-Nya, dan semua al-maujudât dari sudut perincian, dan pembedaan sebagiannya dari sebagian yang lain. Dan martabat ini disebut “Martabat Al-Wahidiyah” dan “Martabat Al-Haqiqah Al-Insaniyah.” Ketiga martabat ini (Ahadiyah, Wahdah, dan Wahidiyah) semuanya adalah qadîm (ada dalam Ilmu Alloh, belum dilahirkan dalam bentuk ciptaan), dan taqdîm dan ta’khîrnya (dalam melihat ini) adalah `aqlî, tidak pada masa (tidak dalam pengertian waktu).

4. Martabat `Âlamul Arwah

Dan martabat keempat adalah “Martabat `Âlamul Arwah”, adalah ibarat dari sesuatu al-kauniyah (yang dijadikan Alloh), yang mujarrod (tunggal), yang terbentang/simpel, yang tampak pada bagian-bagian dzawatya (dzat-dzat dari kauniyah) dan amtsal-nya. Dan martabat kelima 

5. Matabat `Âlamul MItsal

 adalah ibarat dari sesuatu al-Kauniyah yang tersusun, halus, tidak lagi menerima pembagian dan pembedaan sebagian atas sebagian yang lain, tidak menerima pemecahan (al-khorq) dan … (satu kata yang tidak begitu jelas). Dan martabat keenam 

6. Martabat Alamul Ajsam 

adalah ibarat dari sesuatu al-Kauniyah yang tersusun, tampak, menerima pembagian dan pembedaan (dengan yang lainnya).

7. Martabat al-Insan

 Dan martabat ketujuh adalah martabat yang menghimpun keseluruhan bagi semua martabat yang disebutkan, berupa jismâniyah, nuroniyah, Wahdah, Wahidiyah, tajalli Ilahi yang yang akhir dan pakian-pakaian akhir (bagi tajalli Al-Haqq), yaitu al-Insan. Dan ketujuh martabat ini, yang paling utama adalah “Martabat li Zhuhûrin” (yang menyebabkan yang lain tampak), dan enam yang tersisa adalah martabat-martabat penampakan keseluruhannya. Martabat terakhir, maksud saya adalah martabat al-Insan (dapat terjadi) apabila seseorang mendaki dan tampak di dalam (penyaksiannya) martabat-martabat semua  yang tersebut. Dan yang paling sempurna terjadi pada diri Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, dan karena ini beliaiu menjadi Khotaman Nabiyyin.

(Kitab Ithaf Dhaki bii Syarh Tuhfatu Mursyalah ila Ruh Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam, Dar Al-Ihsan, Al-Qaherah, hal 156-158)

Note: 

Martabat Ahadiyah Allah ber tajalli dengan Diri-Nya pada Diri-Nya. 
Martabat Wahdah Allah ber-tajalli dengan nama-nama dan Sifat-sifatNya pada Diri-Nya sendiri.
Martabat Wahidiyah Allah ber-tajalli dengan nama-nama dan Sifat-sifatNya pada potensi alam semesta. 

Salam Syathoriyah

DI BUMI MELAYU: NAQSYABANDIYAH DAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM NUSANTARA

*JEJAK RUHANI DI PANGGUNG KEKUASAAN: SUFISME POLITIK DARI SAMARKAND KE NUSANTARA*
_(Tulisan sederhana sebagai ikhtiar menterjemahkan Nawa Mustika (9 Nasehat/Hikmah) dari Mudir Ali Idarah 'Aliyah Jatman NU, *Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa*)_

Sumber: *Abdur Rahman El Syarif*

BAB V. 
DI BUMI MELAYU: NAQSYABANDIYAH DAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM NUSANTARA
5.5 Palembang: Jaringan Sufi di Tengah Pergolakan

*5.5.2 Jaringan Tarekat dan Mobilisasi Sosial*

Pada abad ke-18 dan ke-19, jaringan tarekat di Palembang berkembang sebagai bagian dari koneksi spiritual dan sosial yang luas, menjangkau wilayah Nusantara hingga Haramain (Mekkah dan Madinah). 

Ulama seperti Syekh Abdussamad al-Palimbani menjalin hubungan erat dengan pusat-pusat tarekat besar di Aceh, Riau, Banten, dan dunia Islam internasional, memperkuat pengaruh ajaran tasawuf yang melampaui batas etnis dan wilayah. 

Para khalifah tarekat, termasuk Syekh Abdul Hamid, memainkan peran penting sebagai pemimpin spiritual sekaligus penggerak perlawanan terhadap kolonialisme, menyebarkan semangat jihad, kesadaran kolektif, dan solidaritas umat melalui transmisi ijazah dan kegiatan sufistik lintas wilayah.

Senin, 19 Mei 2025

Manakib Kubro di Blora

MENGALIRKAN HIKMAH NUSANTARA KE BUKHARA: JEJAK INTERNASIONAL TAREKAT NAQSYABANDIYAH*

*
_(Tulisan sederhana saat membersamai *Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa*, Mudir 'Aly Idarah 'Aliyah Jatman dalam menerima tamu kehormatan dari Negara Uzbekistan)_

Oleh: *Abdur Rahman El Syarif*

Ketika kabar bahwa Mudir ‘Aly Idarah Aliyah JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa mendapatkan undangan menjadi pembicara dalam International Naqshbandi Conference di Bukhara, Uzbekistan pada 29 September - 5 Oktober mendatang tersebar, ia menjadi semacam pertanda besar bahwa arus spiritualitas Islam dari Timur Jauh, khususnya Nusantara, kembali menemukan simpul sejarahnya di jantung Asia Tengah.

Bukhara bukan sekadar kota. Ia adalah gugusan sejarah, cahaya ilmu, dan mata air sufi. Di sanalah Syekh Bahauddin Naqsyaband pendiri tarekat Naqsyabandiyah memulai arus sunyi yang berpengaruh besar dalam lanskap Islam dunia. 

Maka, diundangnya seorang tokoh tarekat dari Indonesia, khususnya dari JATMAN (Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah), adalah bukti keterhubungan spiritual yang melampaui batas politik dan geografis.

*Tarekat sebagai Jalan Diplomasi Spiritual*

Apa yang dibawa oleh Mudir ‘Aly ke Uzbekistan sejatinya lebih dari sekadar pidato atau presentasi. Ia membawa hikmah lokalitas Indonesia, kesufian yang berpadu dengan tradisi pesantren, akhlak kemasyarakatan, dan sejarah panjang para wali yang menenun Islam dengan kearifan Nusantara. 

Tarekat di Indonesia bukan hanya laku pribadi, tetapi juga lembaga sosial, etika politik, dan titian peradaban dunia. 

Dalam dunia yang retak oleh krisis identitas dan kekerasan atas nama agama, pertemuan internasional semacam ini adalah panggung penting untuk memperkenalkan wajah Islam yang damai, bersahaja, dan berakar pada cinta sebagaimana diwariskan oleh para masyayikh Naqsyabandiyah.

*Bukhara dan Nusantara: Jalinan Lama yang Terhubung Kembali*

Tidak berlebihan jika kita sebut bahwa kehadiran perwakilan tarekat Indonesia di Bukhara adalah semacam “ziarah intelektual balik”. Selama berabad-abad, para ulama dan sufi Nusantara mengarungi jalur darat dan laut ke pusat-pusat spiritual Islam di Timur, seperti Gujarat, Hijaz, hingga Asia Tengah. Kini, giliran pewaris mereka menyapa kembali sumber asalnya, bukan untuk belajar semata, tetapi untuk berdialog, berbagi, bahkan mungkin mengilhami.

Uzbekistan kini membuka diri sebagai pusat rujukan kebudayaan Islam klasik. Maka kehadiran suara dari Indonesia, negeri dengan populasi Muslim terbesar, adalah pengakuan atas kontribusi Nusantara dalam gerakan tasawuf global.

*Akhiran: Jalan Sunyi yang Mendunia*

Undangan ini bukan hanya kehormatan, melainkan amanah. Dunia butuh lebih banyak narasi Islam yang membumi dan merangkul. Dunia butuh untuk mendengar bagaimana tarekat tidak berarti pelarian, tetapi perjuangan spiritual dalam bingkai keadaban.

Mudah-mudahan kehadiran JATMAN di Bukhara menjadi penguat bagi pengakuan global terhadap warisan kesufian Nusantara  dan menjadi momentum kebangkitan diplomasi ruhani dari dunia Muslim Selatan.

Bismillah, semoga berkah dan bermanfaat. Amin.

_"Bersama Jatman, Kita Jaga Nafas Tauhid di Setiap Jengkal Tanah Air Nusantara"_

#nu #pbnu #tarekat #naqsyabandiyah #nusantara #islamnusantara #peradabanislam


https://www.facebook.com/share/v/19zaEUvEg7/